Am I That Bad For You?

March 16, 2009

okay, let me start this blog with tons of tears and loads of sorrow. selama seminggu ini, saya sudah melakukan berbagai cara untuk introspeksi dengan apa yang selama ini telah saya perbuat kepada sesama manusia. terinspirasi dari omongan seseorang yang menyebut saya sebagai seseorang yang antagonis – saya kemudian bercermin dan mencoba merefleksikan apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam batin dan diri saya.

orang-orang membenci saya. ya, mereka menunjukkan kebenciannya kepada saya. entah karena saya disebut sebagai seseorang yang tahu segalanya (dan saya tidak menyukai sebutan itu), atau karena hal lain yang menurut orang adalah sesuatu yang membuat mereka jengkel dan sebal terhadap saya. saya tidak tahu! tetapi saya sadar, teman-teman, keluarga, hingga orang lain yang baru saya kenal menyebut saya sebagai manusia yang jahat dan tidak berperasaan.

harus saya klarifikasi : saya benci dengan perubahan, terutama perubahan sikap orang-orang di sekeliling saya. saya tahu, manusia bisa berubah kapan saja. salah seorang mantan sahabat saya bahkan menyatakan kalau saya ini orang yang tidak berperasaan. suka menusuk dan mengolok teman dari belakang, well, padahal saya tidak sepenuhnya demikian. saya tidak seburuk yang orang bayangkan kok!, jujur, kalau selama ini orang2 meremehkan saya kalau saya ini tidak ada apa-apanya, mungkin anda benar! tapi ketika orang2 bilang saya tidak berperasaan, well, anda salah! anda tidak tahu apa2 tentang saya.

seorang teman pernah menyebut saya mengalami perubahan. saya jadi lebih jahat, suka mencaci orang, suka mengkritisi orang berlebihan – padahal saya mencoba untuk jujur. apakah orang2 tidak bisa membedakan omongan saya yang jujur dan terus terang, dengan omongan yang hanya sekenanya keluar dari mulut saya?

ketika saya berbuat baik kepada sesama, mereka cenderung menyalahgunakan kepercayaan dan niat tulus dari saya. mereka seenaknya memanfaatkan situasi dan kebaikan yang saya berikan. baru-baru ini, ada seseorang yang pernah menjadi teman saya di masa lalu, yang meminta maaf atas kesalahan yang dia lakukan. selama ini saya diam dan tidak menanggapi usahanya, karena dia sudah teramat menyakiti saya. selama ini, mereka sudah salah mengartikan diri saya, yang mereka anggap bodoh, lugu, polos, dan bisa dimanfaatkan. walaupun tuhan mengajarkan kita untuk saling memaafkan, well, the fact is, I’m not the one! aku bukan Tuhan yang bisa memaafkan kesalahan hamba2nya dengan tulus.

Kata-kata maaf sepertinya tidak akan pernah cukup untuk menyelesaikan permasalahan, tipikal saya : sekali disakiti dan dikhianati, maka akan sulit bagi saya untuk memberikan kesempatan kedua bagi seseorang untuk memperbaiki kesalahannya. sekali diberi kesempatan, maka akan ada peluang kedua untuk bisa menyakiti lagi. dan hal itu akan terus berulang.. dan saya bukan seorang penganut “second-chance” terms.

Apakah saya seburuk yang anda duga selama ini?

Entry Filed under: Tak Berkategori. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

March 2009
M T W T F S S
« Feb   May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Most Recent Posts